Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling
mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang
yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang
yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan
baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.
Sang wanita hamil
di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang
wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria
tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb,
latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya,
mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang
pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan
keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita
merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak
ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan
orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum
pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah
berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima
calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak
satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan
sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya
menetapkan pilihan untuk kimpoi lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan
semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi
rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika
saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat
oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai
gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.
Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkimpoian mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang² tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan².
Mereka bahkan memberikan uang
dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota
ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya.
Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota
ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria,
bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan
akan sangat sulit?.
Ibu sang pria kembali memohon
kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang
menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria
kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan
usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda
ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk
kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.
Dengan berat
hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa
keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah
melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama
dalam menghadapi penolakan² akibat perbedaan status sosial mereka. Ia
tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.Sang
wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak
antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,
sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
ibu. Anaknya seorang laki². Sang ibu bekerja keras siang dan malam,
untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di
sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian² tetangga dan
menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua
pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.
Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain
tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya…
Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba² sakit keras. Demamnya
sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus
menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini,
dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini,
kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat² herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat² herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun
lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin,
karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum
terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia
tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di
desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat
gajian.
Diantara tangisannya, ia tiba² mendapatkan
ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan
sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu
nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan
anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain.
Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri,
sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat
sangat?..
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan
menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para
tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh
dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang
tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di
hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama² menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”
(terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari² mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.
Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak
terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak
keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera
pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada
kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan
membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik
toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan
serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar²
muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya
sang anak hanya main².
Ketika menyerahkan uangnya,
sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri
kan ?”. “Saya tidak mencuri, kakek.
Hari ini adalah
hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke
sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah
ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini.
Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku
tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
kagum pada anak tsb.
Seperti biasanya, sang ibu
pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan
selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut
bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah
impiannya. Tetapi sang ibu tiba² tersadar, dari mana uang untuk membeli
jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin
ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah ditanya berkali² tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa
anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri.
Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang
pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih,
karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya,
demi kebaikan anaknya.
Suara tangisan sang anak
terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian
prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”,
kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya.
Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.
Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk
menjelaskan. Tetapi tiba² sang anak berlari ke arah pemilik toko,
memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.
“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek
itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba² muncul
di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb,
dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di
tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
Tampak
sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu
pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”.
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi
istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan
hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.
Ketika sang ibu dan anaknya berjalan² ke kota , dalam sebuah
kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru
menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung
semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup
dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera
diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya,
tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di
pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten.
Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.
Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi
biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.
Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
tepat. Satu²nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang
ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling
kota , bermain² di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali,
menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka.
Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam
kegembiraan bersama sang anak.
Sepulang ke rumah, ibu
menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal
bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
“Tetapi ibu
tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa² Bu,
saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama² dengan
ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya
perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”,
kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah
keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat
senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang
anak meronta² ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya,
sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak
sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang
ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang
saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu² “Kalau ibu
saying padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak
anaknya meronta² dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di
rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik.
Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu²nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin
tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh
diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.
Setahun berlalu. Sang
ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi.
Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara
rutin setiap bulan.
Seperti biasa, sang anak ingat akan hari
ulang tahun ibunya.Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu
bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari
sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa
tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah
mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap
hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai
ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah
kosong.
Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada
yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa,
ia duduk di depan rumah tsb, menangis “Ibu benar² tidak menginginkan
saya lagi.”
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas,
ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3
jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah
dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba² ia teringat sesuatu. Hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.
Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik
mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang
tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat
anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan²
imut anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka
sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun.
Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di
hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa
menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba²
ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil di desa tsb.
Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah
kepada tuhan yang Maha welas asih. Tuhan pasti akan menolongmu, jika
niat kamu baik.
Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan,
demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk
dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh
dari tangga, dan berguling² jatuh ke bawah.
Sepuluh tahun
sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering
beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari
tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak
menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana², tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama
dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil,
di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.
Di dorong rasa ingin tahu, ia
menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri
pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng
kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku?
Apakah kalian melihat anakku?”
Sang anak merasa mengenal
wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci
You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut
menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia
segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia
kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan
haru “Ibu? Ini saya ibu”.
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba² muka sang anak, lalu bertanya,
“Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”.
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi.
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi
hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari
anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang
menganggapnya sebagai orang gila.
Kisah ini untuk kita renungkan bersama-sama :
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya. Simaklah penggalan doa keputusasaan
berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang² disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela
mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
apapun.
Tidak diragukan lagi “Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”.
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ….
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE, dan Silahkan juga untuk men-TaG
Sendiri” atau Saling Bantu membantu NgEtaG .. jika menurut sahabat note
ini bermanfaat ….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar